Sejarah Berdirinya Keraton Kasultanan Yogyakarta

Keraton Yogyakarta tahun 1911
Keraton Yogyakarta tahun 1911

Sejarah Berdirinya Keraton Kasultanan Yogyakarta. Sejarah menulis jika di akhir era ke-16 ada sebuah kerajaan Islam di Jawa sisi tengah-selatan namanya Mataram. Kerajaan ini terpusat di wilayah Kota Besar (samping tenggara kota Yogyakarta saat ini), selanjutnya berpindah ke Kerta, Plered, Kartasura dan Surakarta. Makin lama, kewibawaan dan kedaulatan Mataram makin terusik karena interferensi Kumpeni Belanda. Mengakibatkan muncul pergerakan anti penjajah di bawah pimpinan Pangeran Mangkubumi yang kobarkan perlawanan pada Kumpeni dan beberapa figur lokal yang bisa dikuasai oleh Belanda seperti Patih Pringgalaya. Untuk akhiri konflik itu diraih Kesepakatan Giyanti atau Palihan Nagari.

Baca Artikel lainnya: Asal Usul Yogyakarta

Kesepakatan Giyanti yang diberi tanda tangan di tanggal 13 Februari 1755 (Kemis Kliwon, 12 Rabingulakir 1680 TJ) mengatakan jika Kerajaan Mataram dipisah jadi dua yakni Kasunanan Surakarta Hadiningrat dan Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Surakarta dipegang oleh Susuhunan Paku Buwono III, sementara Ngayogyakarta – atau wajar disebutkan Yogyakarta – dipegang oleh Pangeran Mangkubumi yang selanjutnya bertitel Sultan Hamengku Buwono I.

Kesepakatan Giyanti ini selanjutnya dituruti juga dengan tatap muka di antara Sultan Yogyakarta dengan Sunan Surakarta di Lebak, Jatisari di tanggal 15 Februari 1755. Dalam tatap muka ini diulas berkenaan penempatan dasar kebudayaan untuk masing-masing kerajaan. Persetujuan yang dikenali bernama Kesepakatan Jatisari ini mengulas mengenai ketidaksamaan identitas ke-2  daerah yang menjadi dua kerajaan yang lain.

Ulasan dalam kesepakatan ini mencakup tata langkah kenakan pakaian, tradisi istiadat, bahasa, gamelan, tari-tarian, dan sebagainya. Pokok dari kesepakatan ini selanjutnya ialah Sultan Hamengku Buwono I memutuskan untuk meneruskan adat lama budaya Mataram. Sedangkan, Sunan Pakubuwono III setuju untuk memberi modifikasi atau membuat wujud budaya baru. Tatap muka Jatisari jadi titik awalnya perubahan budaya yang lain di antara Yogyakarta dan Surakarta.

Keraton Jogja dulu

Sejarah Berdirinya Keraton Kasultanan Yogyakarta. Tanggal 13 Maret 1755 (Kemis Pon, 29 Jumadilawal 1680 TJ) ialah tanggal monumental untuk Kasultanan Yogyakarta. Di tanggal berikut proklamasi atau Hadeging Nagari Ngayogyakarta Hadiningrat didengungkan. Seterusnya, Sultan Hamengku Buwono I mengawali pembangunan Keraton Yogyakarta di tanggal 9 Oktober 1755.

Proses pembangunan berjalan sampai nyaris setahun. Sepanjang proses pembangunan itu, Sri Sultan Hamengku Buwono I dan keluarga tinggal di Pesanggrahan Ambar Ketawang. Sri Sultan Hamengku Buwono I dan keluarga dan beberapa penganutnya masuk Keraton Yogyakarta di tanggal 7 Oktober 1756 (Kemis Pahing, 13 Sura 1682 TJ). Dalam penanggalan Tahun Jawa (TJ), kejadian ini diikuti dengan sengkalan memet: Dwi Naga Rasa Tunggal dan Dwi Naga Rasa Wani.

Seiring waktu berjalan, daerah Kasultanan Yogyakarta alami pasang kering. Intinya berkaitan dengan dampak pemerintahan penjajahan baik Belanda atau Inggris. Di tanggal 20 Juni 1812, saat Inggris sukses serang dan masuk keraton, Sultan Hamengku Buwono II dipaksakan turun tahta. Substitusinya, Sri Sultan Hamengku Buwono III dipaksakan memberikan beberapa daerahnya untuk dikasih ke Pangeran Notokusumo (putera Hamengku Buwono I) yang diangkat oleh Inggris sebagai Adipati Paku Alam I.

Daerah kekuasaan Kasultanan yang dikasih ke Paku Alam I mencakup sejumlah kecil dalam Ibu-kota Negara dan mayoritas di wilayah Adikarto (Kulonprogo sisi selatan). Wilayah ini memiliki sifat otonom, dan bisa diturunkan ke turunan Pangeran Notokusumo. Oleh karenanya, semenjak 17 Maret 1813, Adipati Paku Alam I mengumumkan berdirinya Kadipaten Pakualaman.

Peralihan besar selanjutnya terjadi sesudah lahirnya Republik Indonesia di tanggal 17 Agustus 1945. Raja Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono IX selekasnya ucapkan selamat untuk berdirinya republik baru itu ke beberapa proklamator kemerdekaan. Support pada republik makin penuh pada saat Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan Sri Paduka Paku Alam VIII keluarkan instruksi di tanggal 5 September 1945 yang mengatakan jika daerahnya yang memiliki sifat kerajaan ialah sisi dari Negara Republik Indonesia.

Terima instruksi itu karena itu Presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Sukarno, memutuskan jika Sultan Hamengku Buwono dan Adipati Paku Alam sebagai dwi tunggal yang menggenggam kekuasaan atas Wilayah Spesial Yogyakarta (DIY). Sempat terkatung-katung sepanjang sekian tahun, status kelebihan itu makin kuat sesudah disahkankannya Undang-Undang nomor 13 tahun 2012 mengenai Kelebihan DIY. Dengan begitu, diharap supaya semua wujud peninggalan budaya di Kasultanan Yogyakarta dan Kadipaten Pakualaman terus dijaga dan dipertahankan kelestariannya.

0 thoughts on “Sejarah Berdirinya Keraton Kasultanan Yogyakarta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *